Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Mendag Ungkap Surplus Perdagangan Indonesia Cetak Rekor 68 Bulan Beruntun

Jakarta :  Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengumumkan kinerja ekspor nasional tetap tumbuh positif sepanjang tahun 2025. Budi menyatakan, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 68 bulan secara berturut-turut.
Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Indonesia 2025 dan Program Kerja 2026 Kementerian Perdagangan di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Capaian membanggakan ini diraih meski perekonomian dunia sedang diliputi tantangan proteksionisme global yang sangat ketat. Pemerintah terus melakukan langkah cepat melalui berbagai kebijakan strategis guna menjaga eksistensi pasar ekspor di luar negeri.

“Namun demikian kalau kita lihat capaian ekspor tahun 2025 makanya kenapa kami baru bisa media briefing hari ini karena kami menunggu data ekspor tahun 2025 kita itu ekspor kita meningkat 6,15 persen,” ujar Budi di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Total nilai surplus perdagangan Indonesia kini telah menyentuh angka sebesar USD41,05 miliar. Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah fenomena anjloknya harga sejumlah komoditas andalan Indonesia di pasar internasional.

Budi menjelaskan, harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan sebesar 16,2 persen. Harga batu bara dunia juga tercatat merosot hingga 19,7 persen.

“Sebagai contoh adalah CPO tahun 2025 itu harganya turun 16,2 persen. Kemudian batubara turun 19,7 persen,” kata Budi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut sektor industri pengolahan kini mendominasi struktur ekspor nasional sebesar 80,27 persen. Transformasi ini membuktikan bahwa program hilirisasi industri telah berhasil mengubah komposisi barang yang dikirim ke mancanegara.

Capaian ekspor non-migas tercatat mengalami kenaikan yang cukup signifikan yakni mencapai angka sebesar 7,66 persen. Sementara itu, pertumbuhan pada sektor industri pengolahan sendiri mampu tumbuh positif di angka 14,47 persen.

“Nah sekarang kita sudah tercapai bahkan industri pengolahan mencapai 80,27 persen. Saya pikir ini perkembangan yang bagus karena ekspor kita kalau ditopang dengan industri pengolahan tentu akan cepat naik,” ucap Budi.

Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam menjadi lima negara penyumbang surplus terbesar bagi perdagangan Indonesia. Khusus untuk negara Swiss, nilai ekspor melonjak tajam hingga 225 persen.

Lonjakan ekspor ke Swiss didominasi oleh komoditas perhiasan dan emas yang memiliki nilai jual sangat tinggi global. Pemerintah berkomitmen terus memperluas akses pasar baru melalui penyelesaian berbagai perjanjian kerja sama dagang internasional secara komprehensif.

“Swiss ini kan karena 92 persen kita ekspor perhiasan. Jadi kan emas kan ratenya tinggi, oleh karena itu kenapa Swiss ini ekspornya meningkat sangat tajam yaitu 225 persen ya,” ucap Budi.

Mendag menargetkan, implementasi kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa dapat segera berjalan pada tahun depan. Saat ini, otoritas terkait sedang menyelesaikan proses verifikasi hukum serta ratifikasi dokumen perjanjian dengan 27 negara.

Hingga kini, Indonesia telah memiliki 20 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan secara aktif oleh para pengusaha. Kesepakatan ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri nasional guna meningkatkan volume pengiriman barang ke luar.(*)

Hide Ads Show Ads