Bencana Alam Beruntun Landa Tujuh Kecamatan di Majalengka
Majalengka : Hujan yang turun tanpa jeda selama berjam-jam mengubah malam menjadi ujian berat bagi Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Jumat, 23 Januari 2026 malam.
Cuaca ekstrem disertai angin kencang memicu serangkaian bencana alam, mulai dari pohon tumbang hingga tanah longsor yang tersebar di sejumlah wilayah.
Berdasarkan rekapitulasi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Majalengka, bencana terjadi di 11 titik kejadian yang meliputi 11 desa/kelurahan di 7 kecamatan.
Peristiwa ini dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Majalengka selama lebih dari lima jam.
Cuaca ekstrem dilaporkan terjadi di Kecamatan Maja, Cingambul, Argapura, dan Sukahaji. Sementara bencana tanah longsor melanda wilayah Kecamatan Jatitujuh, Malausma, Argapura, dan Bantarujeg.
Sejumlah titik longsor bahkan menyebabkan akses jalan tertutup material tanah dan mengancam permukiman warga.
Akibat bencana tersebut, beberapa rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Pohon tumbang juga dilaporkan menimpa jaringan listrik PLN dan bangunan rumah. Secara keseluruhan, beberapa kepala keluarga terdampak, meski tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.
BPBD mencatat kerusakan berupa rumah rusak ringan dan sedang, pohon tumbang, serta gangguan akses jalan akibat material longsor. Di beberapa lokasi, longsoran tanah masih berpotensi membahayakan pemukiman jika hujan kembali turun.
BPBD Majalengka bergerak cepat bersama unsur TNI-Polri, Satpol PP, Damkar, aparatur kecamatan, dan pemerintah desa setempat. Tim gabungan melakukan asesmen di lokasi kejadian, penanganan darurat, serta evakuasi warga jika diperlukan.
Selain itu, BPBD Majalengka juga berkoordinasi dengan BBWS Cimanuk-Cisanggarung terkait pemantauan Tinggi Muka Air (TMA) Bendung Rentang.
Hingga Sabtu, 24 Januari 2026, BPBD Majalengka menyatakan proses kaji cepat dan monitoring di wilayah terdampak masih terus dilakukan. Warga diimbau tetap waspada, terutama yang berada di wilayah rawan longsor dan daerah aliran sungai, mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi.
BPBD Majalengka menegaskan, data yang disampaikan ini merupakan informasi awal dan masih dapat berkembang seiring pembaruan di lapangan.(*)

