Cheongsam, Busana dentik dengan Perayaan Imlek
Jakarta : Cheongsam adalah pakaian tradisional wanita Tionghoa yang dikenal sebagai simbol keanggunan dan identitas budaya. Nama cheongsam berasal dari dialek Kanton yang berarti “long dress".
Dilansir dari qipology.com, Cheongsam juga kerap disebut Qipao yang berarti "banner dress". Keduanya sama, hanya perbedaan utama antara kedua kata tersebut terletak pada asal-usul linguistiknya.
Asal-muasalnya, Cheongsam merupakan pakaian panjang yang dikenakan oleh wanita Manchu pada masa Dinasti Qing (1644–1912). Pada masa itu, awalnya berupa baju longgar yang dirancang untuk kenyamanan dan mobilitas.
Cheongsam modern berkembang pesat di Shanghai pada 1920-an dan 1930-an, menjadi pakaian yang lebih pas di badan. Pengaruh mode Barat, iklan, dan film membuat Cheongsam menjadi simbol feminitas di perkotaan.
Ciri khas desainnya meliputi kerah tinggi (mandarin collar), potongan pas di tubuh, dan belahan sampingnya yang elegan. Ikatan model frog buttons atau pankou jadi detail yang khas pada bagian bukaan pakaian.
Bahan tradisional yang digunakan yakni sutra, brokat, dan satin, sering dihiasi dengan motif simbolis seperti Naga, burung Phoenix, atau bunga Peony. Motif naga melambangkan kekuatan, burung Phoenix melambangkan kebahagiaan, dan bunga peony tanda kemakmuran.
Cheongsam sering dipakai pada acara formal seperti pernikahan, jamuan makan, serta perayaan Tahun Baru Imlek. Warna merah sering dipilih karena melambangkan keberuntungan dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa, namun warna lain juga tersedia.
Masyarakat Tionghoa di luar negeri juga memakai Cheongsam untuk melestarikan warisan budaya dan identitas etnis. Busana ini muncul dalam acara fesyen, film, dan pertunjukan budaya lintas negara.
Walaupun kini tersedia versi modern yang lebih singkat atau modifikasi gaya, nilai budaya tetap relevan. Cheongsam tetap menjadi simbol keseimbangan tradisi dan modernitas yang mewakili keindahan budaya Tionghoa.(*)
