Trump Ancam Intervensi AS Terkait Protes Iran
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan AS akan melakukan intervensi jika Iran menembak atau membunuh demonstran damai. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Jumat (2/1/2026) melalui unggahan di Truth Social, dilansir dari NBC News.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat “siap siaga dan siap bertindak” untuk menolong para pengunjuk rasa. Ancaman Trump segera mendapat respons keras dari pejabat senior Iran.
Mereka memperingatkan bahwa campur tangan Amerika Serikat akan memicu kekacauan regional. Mereka juga menegaskan bahwa pasukan Amerika di Timur Tengah akan menjadi target yang sah.
Pernyataan itu muncul di tengah meluasnya protes ekonomi di Iran yang dalam beberapa hari terakhir berubah menjadi kerusuhan mematikan. Organisasi hak asasi manusia melaporkan sedikitnya tujuh orang meninggal, sementara kantor berita semi-resmi Iran menyebutkan sedikitnya tiga korban jiwa.
Protes meletus pada Minggu (28/12/2025) di ibu kota Teheran. Protes tersebut dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, anjloknya nilai mata uang Iran, dan melonjaknya harga-harga.
Aksi tersebut kemudian menyebar ke kota-kota kecil. Protes itu berkembang menjadi lebih politis dengan slogan-slogan yang menentang rezim ulama dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Perekonomian Iran telah terpukul oleh sanksi bertahun-tahun, konflik dengan Israel, serta serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Krisis air yang sempat melanda juga memperburuk keresahan publik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahnya bersedia berdialog dengan para demonstran dan mengakui adanya tuntutan yang sah. Namun, penasihat Khamenei memperingatkan bahwa Iran akan melawan setiap bentuk intervensi asing.
Sementara itu, tembakan terdengar dalam sejumlah video protes yang beredar daring. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan dilaporkan di berbagai kota.
Organisasi hak asasi manusia mencatat korban tewas di sejumlah provinsi. Pemerintah Iran kemudian menetapkan hari libur nasional sebagai upaya meredam ketegangan.
Sementara pasukan keamanan diperkirakan akan dikerahkan dalam jumlah besar pada akhir pekan. Presiden Pezeshkian memperingatkan bahwa Iran akan merespons dengan keras setiap tindakan agresif terhadap negaranya.(*)

