Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Presiden Trump Ancam Tarif 25% Bisnis dengan Iran

Karawang : Presiden AS beri peringatan keras bagi negara yang nekat menjalin kerja sama perdagangan dengan Teheran.
Trump Ancam Tarif 25% Bisnis dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan perdagangan agresif dengan memberlakukan tarif sebesar 25 persen bagi negara mana pun yang menjalin hubungan bisnis dengan Iran.

Pernyataan tegas ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada hari Senin, yang disebutnya sebagai keputusan "final dan meyakinkan."

"Berlaku segera, setiap negara yang menjalankan bisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif 25 persen atas seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat," tulis Trump dalam unggahannya.

Langkah ini diambil di tengah situasi domestik Iran yang sedang bergejolak akibat gelombang protes antipemerintah selama sepekan terakhir. Kebijakan ini diprediksi akan berdampak signifikan terhadap sejumlah kekuatan ekonomi global yang memiliki hubungan dagang dengan Iran, termasuk Tiongkok, Rusia, Brasil, dan Turkiye.
Trump Ancam Tarif 25% Bisnis dengan Iran

Selain itu, mitra dagang regional seperti Irak dan Uni Emirat Arab juga berpotensi terdampak oleh kebijakan proteksionis Washington ini.

Massa membawa foto Reza Pahlavi, putra dari mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi, saat menggelar aksi unjuk rasa di Istanbul, Turkiye, 11 Januari 2026 [Foto: AP News/Emrah Gurel)
Eskalasi Ketegangan dan Opsi Militer

Selain tekanan ekonomi, Trump juga meningkatkan retorika militer terhadap Teheran. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu untuk mengambil tindakan fisik jika Iran tetap melanjutkan program nuklir dan pengembangan militernya.

"Saya mendengar Iran mencoba membangun (kekuatan) kembali. Jika benar demikian, kami harus menghentikan mereka. Kami akan melumpuhkan mereka sepenuhnya. Namun, saya berharap hal itu tidak terjadi," ujar Trump kepada awak media Senin 12 Januari 2026.

Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari aksi militer sebelumnya pada bulan Juni, di mana AS melakukan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran sebagai bagian dari konflik singkat yang melibatkan Israel.

Meski para ahli hukum internasional menilai serangan tersebut berisiko melanggar hukum global, Gedung Putih menegaskan bahwa semua opsi tetap terbuka.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads