Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

20 Tahun Penahanan Aung San Suu Kyi



Aung San Suu Kyi di markas besar partainya di Yangon pada 15 November 2010, beberapa hari setelah ia dibebaskan (Foto: BBC News)

Bayang-bayang 'The Lady' Masih Menghantui Junta Myanmar

Karawang : Tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, menandai tonggak sejarah kelam pada Rabu 14 Januari 2026 ini. 

Pemimpin berusia 80 tahun tersebut kini telah menghabiskan total 20 tahun masa hidupnya dalam tahanan, dengan lima tahun terakhir dijalaninya sejak kudeta militer menggulingkan pemerintahannya pada Februari 2021.

Hingga saat ini, kondisi kesehatan dan keberadaan pastinya masih diselimuti misteri. Ia diyakini ditahan di sebuah fasilitas militer di ibu kota, Nay Pyi Taw, dalam isolasi hampir total.

"Sejauh yang saya tahu, dia mungkin sudah meninggal," ujar putranya, Kim Aris, dalam sebuah pernyataan bulan lalu. 

Meski demikian, juru bicara junta militer bersikeras bahwa peraih Nobel Perdamaian tersebut berada dalam kondisi kesehatan yang baik.

Isolasi dan Vonis Hukum

Selama dua tahun terakhir, Suu Kyi dilaporkan tidak diizinkan bertemu dengan tim pengacaranya maupun pihak luar, kecuali personel penjara. 

Pasca-kudeta, ia dijatuhi hukuman penjara kumulatif selama 27 tahun atas berbagai tuduhan yang oleh pengamat internasional dianggap sebagai rekayasa politik untuk melenyapkannya dari panggung kekuasaan.

Namun, meski sosoknya hilang dari pandangan publik, pengaruhnya tetap tak tergoyahkan. Di berbagai sudut tersembunyi Myanmar, poster-poster kusam wajah "The Lady" atau "Amay Su" (Ibu Su) masih terlihat, menjadi simbol perlawanan yang diam namun persisten.

Perbandingan Dua Era: 2010 vs Sekarang

Situasi saat ini sangat kontras dengan pembebasannya yang fenomenal pada tahun 2010. Kala itu, militer yang telah berkuasa selama lima dekade mulai membuka diri demi mengakhiri sanksi ekonomi Barat dan menyeimbangkan ketergantungan pada China.

Pada masa itu, terdapat kelompok perwira menengah yang moderat dan bersedia melakukan kompromi politik. 

Hasilnya, Suu Kyi tidak hanya bebas, tetapi berhasil membawa partainya, National League for Democracy (NLD), memenangkan pemilu bebas pertama pada 2015.

Namun, harapan untuk pengulangan skenario tersebut kini tampak redup.

"Kali ini tidak ada reformis di jajaran militer, dan tidak ada harapan untuk kompromi seperti yang memulihkan demokrasi pada 2010," tulis analisis pengamat politik regional.

Kekerasan ekstrem yang digunakan militer untuk menumpas protes pasca-kudeta 2021 telah mendorong generasi muda Myanmar mengangkat senjata, memicu perang saudara yang telah menewaskan puluhan ribu orang.

Relevansi di Tengah Perubahan Zaman

Posisi Suu Kyi kini berada di titik persimpangan. Keyakinannya pada perjuangan non-kekerasan mulai dipertanyakan oleh kelompok perlawanan bersenjata yang menilai militer hanya bisa dikalahkan lewat kekuatan fisik.

Selain itu, reputasi internasionalnya sempat meredup akibat pembelaannya terhadap militer dalam kasus dugaan genosida etnis Rohingya di Mahkamah Internasional pada 2017. Meski demikian, di dalam negeri, ia tetap menjadi tokoh sentral.

Di tengah kebuntuan politik dan konflik yang berkepanjangan, banyak pihak berpendapat bahwa terlepas dari segala kontroversinya, Suu Kyi tetaplah satu-satunya tokoh dengan wibawa moral yang mampu menyatukan faksi-faksi di Myanmar. Tanpanya, jalan menuju rekonsiliasi nasional tampak hampir mustahil untuk dicapai.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads